Jaminan Simpanan Nasabah

Posted on Februari 26, 2009. Filed under: Artikel |

Krisis dan Jaminan Simpanan Nasabah

 

Oleh : Yunus Husein

 

Pekan lalu, dalam pertemuan negara-negara G-7 (Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Italia, Inggris, Prancis, dan Jerman), disepakati peluncuran lima langkah untuk meredakan kepanikan pasar untuk mengatasi krisis keuangan yang terjadi.


Lima langkah tersebut adalah melindungi bank besar dari kebangkrutan, memperbesar aliran kredit, menaikkan modal bank, melindungi simpanan nasabah, dan menghidupkan pembiayaan perumahan. Sudah tentu Indonesia menaruh perhatian yang serius terhadap kesepakatan tersebut.Apa yang dapat dilakukan Indonesia untuk melindungi simpanan nasabah bank?


Ketentuan yang Berlaku


Masalah perlindungan terhadap simpanan nasabah diatur dalam Pasal 37B Undang-Undang No 7/1992 sebagaimana telah diubah oleh UU No 10/1998 tentang Perbankan. Sebagai pelaksanaannya, pada 22 September dikeluarkanlah UU No 24/2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS).


Dalam penjelasan umum UU ini disebutkan,kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan merupakan salah satu kunci untuk memelihara stabilitas pada sistem perbankan. Kepercayaan itu dapat lahir kalau ada kepastian hukum dalam pengaturan dan pengawasan bank dan penjaminan simpanan nasabah bank.


Selanjutnya,berdasarkan Pasal 11 dan 100 UU LPS,nilai simpanan yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank adalah sebagai berikut. Sejak 22 Maret 2006 seluruh nilai simpanan nasabah dijamin.


Nilai simpanan yang dijamin turun menjadi Rp5 miliar sejak tanggal 22 September 2006 dan sejak 22 Maret 2007 sampai 13 Oktober 2008 nilai simpanan yang dijamin paling banyak Rp100 juta. Pada 13 Oktober 2008, pemerintah telah mengambil kebijakan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang mengubah ketiga persyaratan untuk menaikkan nilai simpanan yang dijamin sekaligus menaikkan nilai simpanan yang dijamin menjadi sebesar Rp2 miliar.


Langkah pemerintah ini sudah benar. Pada dasarnya, besaran nilai simpanan yang dijamin dapat diubah menjadi lebih besar apabila dipenuhi salah satu dari tiga alasan sebagai berikut. Pertama, terjadi penarikan dana perbankan dalam jumlah besar secara bersamaan.Kedua, terjadi inflasi yang cukup besar dalam beberapa tahun.


Ketiga, jumlah nasabah yang dijamin seluruh simpanannya menjadi kurang dari 90% dari jumlah nasabah penyimpan seluruh bank. Perubahan nilai simpanan yang dijamin dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat.


Ketentuan tentang alasan mengubah nilai penjaminan tersebut kurang antisipatif terhadap krisis,sehingga untuk mencegah krisis atau meredakan pasar dan masyarakat ketentuan Pasal 11 tersebut tidak dapat dipakai dan harus direvisi.


Menaikkan Jaminan Simpanan


Ada beberapa kemungkinan yang dilakukan untuk menjaga agar simpanan nasabah bank tidak ditarik secara besar-besaran atau pindah ke tempat lain yang lebih menarik.Di antaranya adalah menaikkan nilai simpanan yang dijamin dan menaikkan tingkat suku bunga penjaminan.


Menaikkan nilai simpanan yang dijamin merupakan suatu keharusan pada situasi sekarang ini seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat. Bahkan beberapa negara sudah menjamin seluruh nilai simpanan nasabahnya seperti Jerman dan Irlandia.


Indonesia perlu menaikkan nilai simpanan yang dijamin menjadi beberapa miliar rupiah sehingga masyarakat menjadi lebih tenang. Kita tidak perlu menjamin seluruh nilai simpanan masyarakat karena akan sangat berat bebannya bagi pemerintah (mirip Bantuan Likuiditas Bank Indonesia pada waktu krisis 1997–1998) dan mungkin kurang menguntungkan bagi negara lain yang memiliki kebijakan berbeda.


Walaupun mutlak dilakukan, menaikkan jumlah nilai simpanan yang dijamin belum tentu memecahkan masalah secara tuntas karena struktur penyimpan dana pada bank di Indonesia kurang merata.


Menurut pemerintah, pada waktu nilai simpanan yang dijamin sebesar Rp100 juta, ada sekitar 95% nasabah memiliki simpanan sampai dengan jumlah seratus juta rupiah. Inilah yang oleh Zulkarnain Sitompul disebut dengan ordinary customer atau unsophisticated customer yang kurang mampu melindungi dirinya sendiri.


Sekarang jumlah nasabah yang dilindungi meningkat menjadi 97% atau 78,6 juta nasabah.Tetapi perlu diingat bahwa masih ada nasabah lain sebesar sekitar 3% atau 2,4 juta nasabah yang justru memiliki simpanan cukup besar mungkin mendekati 50% dari total nilai simpanan yang dihimpun bank, misalnya Dana Pensiun, PT Jamsostek, Perusahaan Asuransi.


Nasabah ini sudah tentu harus diperhitungkan dan didekati dengan baik, karena dalam situasi genting seperti ini mereka memiliki bargaining positionyang semakin kuat untuk meminta bunga yang lebih tinggi. Nasabah ini penting untuk diminta pengertian agar tidak menarik dananya dari bank.


Sebenarnya berapa pun kenaikan nilai simpanan yang dijamin tidak berhubungan dengan kemampuan LPS untuk membayar simpanan nasabah. Simpanan masyarakat yang ada pada bank umum dan bank perkreditan rakyat per Juli 2008 sekitar Rp1.555 triliun.


Di lain pihak kemampuan Lembaga Penjamin Simpanan sekitar Rp7 triliun yang berasal dari modal disetor, iuran keanggotaan dan premi penjaminan. Walau demikian, kenaikan nilai simpanan yang dijamin ini secara psikologis sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat pada bank. Apa lagi ada ketentuan yang memungkinkan pemerintah untuk meminjamkan dana kepada LPS dalam rangka memenuhi kewajiban penjaminan dana masyarakat.


Menaikkan Bunga


Langkah lain yang dapat ditempuh adalah menaikkan suku bunga penjaminan.Tetapi sudah tentu perlu dipertimbangkan matang-matang karena akan berdampak luas. Kalau suku bunga penjaminan yang sekarang sebesar 9,5% dinaikkan,ada dampak positif, misalnya nasabah deposan besar tidak akan mengonversi simpanannya ke dalam valuta asing, misalnya dolar AS, sehingga dapat mengerem terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah.


Walaupun begitu, kenaikan bunga penjaminan ini akan memicu kenaikan suku bunga.Semua nasabah akan meminta kenaikan suku bunga. Hal ini akan memperbesar biaya/bunga penghimpunan dana dan biaya/bunga penyaluran kredit.


Akhirnya sektor riil akan terkena beban bunga yang lebih besar sehingga dapat mengalami kesulitan di dalam mengembalikan pinjaman yang diterimanya dari bank.Akhirnya hal ini dapat mendorong meningkatnya kredit macet yang dampaknya sangat serius terhadap perbankan dan perekonomian.


Dikhawatirkan juga,kebijakan ini tidak sejalan dengan kebijakan yang dilakukan negara lain. Mengingat krisis ini bersifat global, maka perlu kebersamaan dan sinkronisasi langkah di dalam mengatasinya.


Tindakan pemerintah yang cepat menaikkan nilai simpanan yang dijamin menjadi 2 miliar rupiah per nasabah per bank adalah tindakan yang baik dan perlu didukung oleh semua pihak.Tanpa didukung semua pihak seperti Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah, pengusaha,dan civil society,upaya pemerintah mengatasi krisis tidak akan berhasil baik.(*)

 

Sumber: Harian Seputar Indonesia, Kolom Opini. 15 Oktober 2008

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: