Memecahkan Masalah Terorisme secara Komprehensif

Posted on November 2, 2012. Filed under: Artikel |

Oleh : Yunus Husein

 

Tragedi bom bunuh diri yang terjadi di Hotel Marriott dan The Ritz-Carlton pada 17 Juli yang lalu menunjukkan bahwa masalah terorisme di Indonesia masih merupakan persoalan yang serius walaupun lebih tiga ratus teroris sudah ditangkap dan dihukum pengadilan. Bagaimanakah masalah ini harus diselesaikan secara komprehensif agar tidak terulang lagi pada masa yang akan datang?

Akar Permasalahan
Masalah terorisme bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Ia sering terkait dengan masalah lain seperti ketidakadilan, penindasan, dan kemiskinan. Ada juga kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan atau pembebasan yang sedang dilakukan oleh sekelompok orang. Masalah ketidakadilan atau penindasan bisa terjadi di dalam atau di luar negeri.
Kelompok teroris ini merasa tidak mampu melakukan perlawanan secara langsung sehingga melakukan perlawanan dengan kekerasan yang menimbulkan ketakutan (teror). Misalnya ketidakadilan yang dialami oleh rakyat Palestina yang ditindas oleh Israel yang hampir selalu didukung oleh negara-negara Barat menimbulkan simpati sebagian kelompok Islam garis keras di Indonesia kepada bangsa Palestina dan terpanggil untuk melakukan pembalasan.
Mereka tidak dapat membalas langsung sehingga mereka melakukan pembalasan tidak langsung dengan menyerang kepentingan negara-negara Barat yang mendukung Israel. Dengan demikian, untuk memecahkan masalah terorisme diperlukan mencari akar permasalahannya untuk dipecahkan.
Diperlukan pendekatan multidimensi untuk memecahkan masalah ini dengan melibatkan berbagai instansi dan tokoh masyarakat. Oleh karena itu, pembentukan Desk Terorisme di bawah Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) sudahlah tepat. Yang diperlukan adalah perlu ditingkatkannya peranan Desk Terorisme dengan berbagai program yang memecahkan akar permasalahan tersebut. Yang selama ini banyak terdengar adalah penindakan terhadap terorisme oleh Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri,sementara Desk Terorisme tidak begitu aktif.

Aspek Internasional
Masalah terorisme di dalam negeri tidak terlepas dari masalah lain yang terjadi di luar negeri seperti ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina yang ditindas Israel dengan dukungan negara-negara Barat, masalah Afghanistan, masalah invasi Amerika Serikat ke Irak tanpa persetujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selama masalah-masalah internasional tersebut tidak diselesaikan dengan adil dan baik,masalah terorisme sulit untuk diselesaikan. Untuk itulah yang diperlukan kesadaran setiap negara dan kerja sama internasional untuk selalu mengupayakan penyelesaian masalah internasional dengan adil dan damai.
Penyelesaian masalah internasional hanya dengan cara kekerasan atau tindakan militer tidak akan pernah menyelesaikan masalah secara tuntas dan permanen. Di sinilah diperlukan peran PBB lebih aktif sehingga penyelesaian masalah internasional tidak diserahkan kepada negara adidaya tertentu.

Aspek Pencegahan dan Penindakan
Penegakan hukum terhadap pelaku teror harus dilakukan dengan tegas,adil,dan bijaksana.Penegakan hukum ini harus dilakukan terus menerus baik secara terbuka dan tertutup (intelijen) baik untuk pencegahan maupun penindakan.
Dengan terjadinya peledakan bom di Hotel Marriot dan Ritz-Carlton timbul kesan bahwa upaya pencegahan kurang berhasil dibandingkan dengan upaya penindakan yang sudah berhasil menangkap lebih dari tiga ratus teroris.
Dalam penindakan aksi terorisme, tujuan penghukuman bukanlah untuk balas dendam,tetapi untuk menimbulkan efek jera kepada pelaku dan menimbulkan efek pencegahan (deterrence effect) bagi orang lain.
Pembinaan pelaku teror dan keluarganya atau kelompoknya juga perlu dilakukan dengan komprehensif untuk menyadarkan pelaku. Keterlibatan para ahli, organisasi keagamaan, atau tokoh agama kiranya tetap diperlukan. Adakalanya penyidik atau penuntut umum perlu menguasai dengan baik organisasi teroris dan ideologi yang melatarbelakanginya.

Aspek Pembiayaan
Sumber dana merupakan lifeblood of the crime. Kegiatan terorisme pasti memerlukan sumber dana untuk biaya pembuatan bom, biaya operasional, atau biaya hidup. Pemberantasan terorisme harus disertai juga dengan pencegahan dan pemberantasan pembiayaan terorisme dengan mengejar sumber uangnya (follow the money).
Hal ini perlu mendapat perhatian lebih baik karena kita mendapat penilaian yang kurang bagus tentang masalah ini. Dari sembilan standar internasional (special recomendation) untuk memberantas pembiayaan kegiatan terorisme, ada empat predikat nilai yang tersedia, yaitu compliance, largely compliance, partial complaince, dan non-compliance. Indonesia hanya memperoleh noncompliance dan partial compliance.
Tidak satu pun Indonesia memperoleh nilai compliance atau largely compliance. Laporan transaksi keuangan mencurigakan (LTKM) yang disampaikan penyedia jasa keuangan (PJK) yang terkait pembiayaan terorisme tidak begitu banyak. Sampai sekarang laporan yang diterima sekitar tiga puluhan.
Kebanyakan laporan disampaikan karena ada permintaan dari kepolisian. Hampir tidak ada laporan yang disampaikan karena inisiatif PJK. Dalam hal ini harus diakui bahwa PJK sangat kesulitan untuk mengetahui apakah suatu transaksi keuangan berkaitan dengan pendanaan terorisme atau bukan. Untuk itu diperlukan kerja sama yang baik antara Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dengan kepolisian dan PJK sehingga LTKM yang dilaporkan lebih banyak.
Dari lebih dari tiga ratus tersangka teroris yang ditangkap sangat sedikit (tidak sampai lima kasus) yang dihukum karena melakukan kegiatan pembiayaan terorisme. Di masa depan pendekatan follow the money dalam pemberantasan terorisme masih perlu ditingkatkan agar mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membuat bom, biaya operasional,ataupun biaya lain.
Pemberantasan terorisme adalah masalah yang kompleks.Hal ini bukan tugas kepolisian saja,tetapi tugas kita semua, termasuk anggota masyarakat. Tanpa adanya kesadaran kita bersama di dalam dan di luar negeri, sangat sulit untuk memberantas terorisme. Kurangnya partisipasi masyarakat bukan saja mempersulit pemberantasan, tetapi juga akan memberikan ruang hidup bagi para teroris tersebut.
Di samping itu,untuk menghilangkan terorisme secara tuntas, akar penyebabnya harus dicari dan dihilangkan. Dalam hal ini kerja sama seluruh negara di bawah payung PBB suatu hal yang sangat diperlukan.

Sumber: Koran Sindo, 27 Juli 2009

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: